Tak Pernah sekalipun terlintas dalam pikiran Emma, Jika mimpi bisa di rajut dari kain perca yang nyaris tak berguna. Dengan tangan mungil yang penuh impian, ia mulai menyulam langkah dari ruang tamu Mbah Siti- membangun Ena studio dari benang. Namun, semakin tinggi keinginan, semakin besar pula badai yang harus ia lalui.